Dukung Seorang Ibu Menghadapi Baby Blues

Bagi sebagian wanita menjadi seorang ibu adalah suatu keajaiban. Mulai dari hamil sampai melahirkan banyak hal yang membuat kita takjub. Janin yang menempel di rahim seorang ibu terus tumbuh dan berkembang dari sekecil kacang merah menjadi seorang bayi yang siap dilahirkan ke dunia.

Ketika waktunya melahirkan tiba, seorang ibu harus siap untuk menyambut kedatangan anggota baru dalam keluarga. Bayi yang masih sangat rentan membutuhkan perhatian yang sangat banyak. Sehingga terkadang Seorang ibu terlalu fokus terhadap bayinya, melupakan dirinya sendiri, dan tidak dapat menyesuaikan diri.

Ibu yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehadiran seorang bayi dan mengalami gangguan psikologis, seperti merasa sedih, jengkel, lelah, marah, dan putus asa. Perasaan itulah yang membuat seorang ibu enggan mengurus bayinya yang oleh para ahli di sebut postpartum blues atau biasa dikenal dengan baby blues. Baby blues muncul ketika seseorang tidak berhasil menyesuaikan diri terhadap perubahan pola kehidupan akibat kehamilan, proses persalinan dan pasca persalinan. Banyak kegiatan yang harus berubah karena menyesuaikan dengan bayi.

Mengutip dari hasil penelitian RS Majapahit, bahwa diperkirkan hampir 50-70% seluruh wanita pasca melahirkan akan mengalami baby blues atau post natal syndrome yang terjadi pada hari ke 4-10 hari pasca persalinan (Janiwarty & Pieter, 2013). Di Indonesia, angka kejadian postpartum blues antara 50%-70% dari ibu primipara pasca persalinan jika tidak dilakukan perawatan dan dukungan sosial yang tepat (Hidayat, 2007). Hasil penelitian yang dilakukan di Jakarta oleh dr. Irawati Sp.Kj menunjukkan 25% dari 580 ibu yang menjadi respondennya mengalami sindroma ini (Pangesti, 2013). Penelitian di RSU Soetomo Surabaya tahun 2006 menunjukkan 50% dari 40 ibu pasca salin mengalami post partum blues (Sumarlina, 2008).

Menurut keterangan Sherly Hidayat Putra, M.Psi, Psikolog Klinis dari Ukrida. Muncul perasaan gundah gulana atau sedih yang dialami para ibu usai melahirkan. Hal ini terjadi pada 14 hari setelah ia melahirkan dan cenderung memburuk pada hari ke 3 atau 4. Data penelitian di berbagai belahan dunia menunjukkan dua per tiga atau sekitar 50 – 75 persen wanita mengalami Baby blues Syndrome.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. Irawati Sp.Kj di Jakarta menunjukkan 25% dari 580 ibu yang menjadi respodennya mengalami sindroma baby blues. Besarnya angka ini menurut Dr. dr. Irawati Ismail Sp.Kj, MEpid, dari Bagian Psikiatri FKUI, menunjukkan bahwa baby blues adalah gangguan yang sering terjadi. Akan tetapi jarang dirujuk ke ahli kejiwaan.

Gejala umum yang terjadi pada ibu yang mengalami baby blues yaitu sering menyalahkan diri sendiri, khawatir dan cemas, segala sesuatu terlalu membebani. Baby blues tergolong gangguan mental ringan sehingga sering tidak dipedulikan, tidak terdiagnosa dan akhirnya tidak ditangani. Peningkatan dukungan mental atau dukungan dukungan keluarga sangat diperlukan dalam mengatasi gangguan psikologis yang berhubungan dengan masa nifas.

Saya sendiri setelah baru saja melahirkan pernah merasakan senang dan lelah dalam satu waktu. Memiliki bayi dapat membuat saya merasa bahagia, tetapi dalam waktu yang bersamaan menimbulkan berbagai macam tantangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Saya merasakan kelelahan, kecemasan, dan menangisi sesuatu yang sebetulnya tidak penting. Nafsu makan kadang meningkat atau menurun, dan saya tidak dapat tidur nyenyak di malam hari. Saya juga terkadang mencemaskan bagaimana menjadi seorang ibu yang baik.

Menurut saya seorang ibu mengalami baby blues adalah hal yang wajar, karena setelah melahirkan banyak hal yang berubah. Kadar hormon dalam tubuh yang berubah drastis dapat mengakibatkan perubahan emosional dan kesehatan fisik. Hal tersebut merupakan persiapan tubuh untuk menghadapi tahapan selanjutnya yaitu menyusui.

Hal yang saya lakukan untuk dapat menghadapi baby blues adalah dengan istirahan pada saat waktu senggang dan makan makanan bergizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Selain itu, perlu olahraga secara teratur, minimal melakukan peregangan ketika badan terasa sangat lelah.

Namun yang terpenting adalah jangan menyepelekan baby blues karena dapat mengarah pada despresi pasca melahirkan yang dapat membahayakan ibu dan bayinya. Untuk itu perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama suami, keluarga, dan orang terdekat. Supaya seorang ibu dapat melampaui peristiwa baby blues dengan cepat. Seorang ibu yang sehat sangan dinantikan oleh seorang bayi yang akan menjadi calon generasi penerus bangsa.

Advertisements